- Back to Home »
- Sanitasi Lingkungan
Posted by : Unknown
Saturday, 24 May 2014
Assalamu Alaikum, Post kali ini menginformasikan mengenai salah satu akibat pertamabahan penduduk, yaitu : Sanitasi.
Pengertian Sanitasi

Permasalahan
Persoalan Akses dan Kualitas
Persoalan Perhatian, Pendanaan, dan Dampak Lingkungan
Persoalan Kesadaran Masyarakat

Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia. (Sumber:Wikipedia)
Bahan buangan yang dimaksud adalah sampah, limbah industri maupun domestik dan lainnya. Bahan-bahan tersebut dapat mengganggu kesehatan manusia maupun keseimbangan lingkungan.
Permasalahan
Ada beberapa jenis permasalahan dasar yang terkait dengan sistem pengelolaan sanitasi, yaitu: akses, kualitas pengelolaan yang rendah dan perawatan sarana. Permasalahan sanitasi di Indonesia kebanyakan karena kurangnya peduli masyarakat untuk menjaga sanitasi lingkungan. Selain itu, fasilitas sanitasi yang kurang memadai juga menjadi permasalahan terutama di kota-kota besar seperti Jakarta
Persoalan Akses dan Kualitas
Banyaknya rumah tangga di Indonesia membuat akses terhadap sanitasi juga meningkat. Berdasarkan data Susenas, untuk fasilitas sanitasi, pencapaian Indonesia sempat meningkat tinggi dari tahun 1992 (30,9%) sampai dengan tahun 1998 (64,9%), dimana dalam enam tahun terjadi peningkatan sebanyak tiga kali lipat. Walaupun demikian, sejak tahun 1998 pertumbuhan akses ini melambat, bahkan sempat menurun di tahun 2000 (62,7%) dan 2002 (63,5%) karena tingkat pertumbuhannya tidak sebanding dengan tingkat pertumbuhan penduduk. Data terakhir untuk tahun 2004, proporsi rumah tangga yang memiliki akses pada fasilitas sanitasi yang layak, artinya menggunakan tangki septic atau lubang sebagai tempat pembuangan akhir mencapai dua pertiga dari seluruh rumah tangga di Indonesia (67,1%).
Dari data di atas, banyaknya rumah tangga yang memiliki akses sanitasi mencapai angka yang lumayan mengingat jumlah penduduk Indonesia yang banyak. Namun, data tersebut tidak menghitung jumlah pengguna maupun tingkat kelayakannya. Padahal, menurut definisi dari UN-HABITAT, jamban yang layak sebaiknya digunakan oleh jumlah orang yang terbatas. Data tersebut juga belum menjelaskan kualitas jamban, apakah berfungsi dengan baik, apakah sesuai dengan peruntukannya, dan apakah sesuai dengan standar kesehatan maupun teknis yang telah ditetapkan.
Persoalan Perhatian, Pendanaan, dan Dampak Lingkungan
Perhatian Pemerintah terhadap sanitasi dibuktikan dengan Jambore Sanitasi yang diadakan tiap tahunnya. Dari program tersebut akan menghasilkan duta-duta sanitasi yang telah mendapat sosialisasi yang selanjutnya diteruskan ke masyarakat. Selain itu, Pemerintah juga membentuk Satuan Kerja khusus yang mengurus sanitasi. Meskipun begitu, masih banyak masalah yang timbul mengenai sanitasi, misalnya pembagunan sarana seperti Drainase dan MCK Sehat di lingkungan yang kumuh masih dibatasi oleh pengalokasian dana. Padahal, bahaya kerusakan lingkungan dan menurunnya kualitas air baku karena kurangnya perhatian pada masalah sanitasi dapat menyebabkan upaya perbaikan yang 10 kali lebih mahal daripada biaya pencegahannya. Perhatian yang terbatas kepada air limbah juga ditandai dengan keterbatasan pilihan teknologi alternatif sehingga aplikasinya pada masalah dan lingkungan yang beragam, misalnya untuk jenis buangan padat dan cair, dari kawasan industri maupun rumah tangga, menjadi jauh dari optimal. Penyakit seperti diare dan malariapun biasa muncul pada daerah dengan sanitasi buruk. Data dari survey sumur dangkal di Jakarta menyatakan bahwa 84% dari sample menunjukkan adanya pencemaran terhadap air tanah (Laporan Pencapaian MDG Indonesia 2004).
Kesadaran masyarakat menjadi salah satu faktor utama permasalahan sanitasi, pengetahuan masyarakat yang minim menyebabkan keinginan untuk menjaga lingkungan menjadi rendah, terutama di daerah perdesaan, karena rendahnya tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat. Hal ini menyebabkan banyaknya jamban yang tidak digunakan sebagaimana mestinya karena ketidakmengertian masyarakat maupun drainase yang tidak terurus dengan baik. Sayangnya sumber daya manusia yang bergerak di bidang sanitasi masih sangat sedikit. Keterlibatan dan komitmen pemangku-kepentingan (stakeholder) termasuk pemerintah, para wakil rakyat dan dunia usaha masih sangat dibutuhkan.
Pemerintah dan masyarakat seharusnya bekerja sama demi terciptanya lingkungan yang layak untuk dihuni dan sanitasi yang baik diharapkan dapat membawa dampak yang baik bagi lingkungan dan manusia.